Resolusi 2026? Waspada “What the Hell Effect”

Share

Selamat tahun baru 2026! 

Bagaimana dengan perjalananmu di tahun 2025? 

Tahun baru identik dengan resolusi baru. Orang cenderung untuk mengevaluasi hidupnya di tahun lalu dan memikirkan apa yang akan dia lakukan atau capai di tahun yang baru. Tak jarang orang membuat resolusi terkait karir, hidup lebih sehat, finansial, kehidupan spiritual, relasi dengan orang lain, dan masih banyak lagi. Menariknya, tidak banyak orang yang berhasil menjalankan resolusi yang telah dibuatnya dengan baik. Bahkan salah satu penelitian menunjukan pada bulan ketiga, hanya 43% yang masih bertahan menjalankan resolusinya (Oscarsson, et al., 2020). Mengapa orang bisa gagal dalam menjalankan resolusinya? Artikel ini akan membahas “What the Hell Effect” yang dicetuskan oleh Herman dan Polivy (2020).

Penelitian ini berkaitan dengan bagaimana orang memutuskan untuk diet. Bayangkan seseorang yang sudah bertekad untuk diet : “Aku akan diet tahun ini. Aku tidak boleh makan ini-itu”. Lalu ada hari dimana diet itu gagal, entah karena stres, lapar berat atau ada godaan tertentu. Di momen seperti itu, muncul kalimat yang sangat manusiawi: “what the hell, my diet is already broken so I might as well eat and enjoy now” (Herman dan Polivy, 2020). Ada sebuah paradoks disini.  Secara logika ketika seseorang sedang gagal diet, seharusnya dia lebih bisa menahan diri atau mengerem tidak makan banyak. Tapi kenyataannya justru malah bablas dan jadinya makan semakin banyak. Pada saat seperti inilah terjadi sebuah “shift mental” dimana manusia ketika merasa dirinya sudah gagal, maka menganggap semuanya berantakan. Hidup seakan berada dalam pola hitam-putih. Kalau tidak sempurna, berarti hancur sekalian. Banyak yang berkata “aku sudah gagal hari ini, yaudahlah sekalian aja gagal..” atau “yaudahlah ya sekalian aja (what the hell)...”.

Mengapa banyak orang justru menjadi bablas ketika gagal? Penelitian ini menunjukan ketika seseorang membuat sebuah aturan kognitif, misalnya seperti “aku tidak boleh makan manis” atau “aku main game hanya 30 menit”, namun ketika aturan itu gagal dilakukan, maka yang rusak bukan hanya “aturan kognitif”nya saja, tetapi “sistem kontrol”nya juga rusak. Jadinya orang tersebut akan makan lebih banyak ataupun main game lebih banyak dibanding aturan yang telah dibuatnya, karena sudah merasa gagal jadi sekalian bablas saja. Hal ini terjadi karena adanya rasa bersalah yang lebih besar. Saat rasa bersalah dan stres meningkat, kemampuan otak untuk berpikir jernih dan mengontrol diri ikut menurun yaitu bagian Prefrontal Cortex yang berperan besar dalam pengambilan keputusan dan regulasi diri (Shansky & Lipps, 2013). Akibatnya, sistem kontrol runtuh dan diri dipenuhi dengan kegagalan, sehingga banyak orang yang cenderung menjadi “bablas”. Orang baru akan “mengerem” setelah terbentur dengan sebuah kesadaran baru, misalnya ketika sudah kenyang berlebihan, atau setelah dampaknya terasa berat, barulah muncul kesadaran bahwa dirinya sudah jatuh terlalu jauh (Herman dan Polivy, 1987).

Otak manusia sangat unik. Jika kita tidak memahami sepenuhnya maka manusia akan banyak jatuh dalam kegagalan. Tak heran banyak orang ketika sudah “gagal” dalam menjalankan resolusi ataupun target tertentu, banyak orang bukannya ngerem dan balik lagi melakukan resolusi itu, tetapi justru makin bablas jatuh dan menghilang. Tak heran ini juga banyak terjadi di dalam banyak aspek manusia. Contoh dalam Alkitab, Petrus telah menyangkal Yesus tiga kali. Kegagalan ini membuat Petrus justru tidak menjadi penjala manusia lagi, melainkan kembali ke pekerjaannya semula sebagai penjala ikan (Yohanes 21). Padahal Petrus tahu, bahwa Tuhan sudah memanggil dia dan mendengar pengajaran Yesus tentang bagaimana Yesus penuh kasih dan mengampuni manusia. Tetapi perasaan gagal itu menutupi Prefrontal Cortexnya, sehingga Petrus kehilangan kontrol dan memilih menghilang. Saya juga menemukan di ruang konseling, ada beberapa klien saya yang jatuh ke dalam dosa tertentu, misalnya merokok, mabuk, seks bebas atau yang lain dan mereka tidak punya kekuatan untuk bertobat padahal mereka sudah diajarkan berkali-kali tentang Yesus mengasihi mereka. Mereka selalu merasa gagal dan dianggap sebagai anak pembuat masalah oleh orang lain, sehingga mereka memilih untuk hidup dalam kegagalan saja dan tidak mau berubah. Ketika mereka jatuh semakin dalam dan sudah merasakan dampaknya, barulah beberapa orang sadar dan “mengerem” sehingga mereka kembali lagi untuk memperbaiki dirinya. Ada pepatah Jepang mengatakan “if you get on the wrong train, get off at the nearest station”. Jika kamu sudah tahu salah, segeralah berbalik, semakin jauh kamu bertahan dalam kesalahanmu, semakin sulit untuk kembali.

Kembali lagi ke dalam topik utama. Lalu bagaimana supaya resolusi tidak gagal, atau lebih tepatnya bagaimana supaya 2026 tidak menjadi tahun yang gagal? Penting bagi kita untuk membuat list resolusi 2026 mau seperti apa. Ada beberapa tips yang dapat kita praktekan dari penelitian dan tulisan ini. 

  1. Latih cara pandang yang tidak hitam putih. 

Jika kita melewati batasan dari list resolusi yang kita buat, bukan berarti resolusinya gagal. Ketika aturan gagal, bukan berarti sistem kontrolnya rusak. Kita perlu punya awareness yang baik sehingga satu kegagalan bukan berarti semuanya gagal. 

Ambilah waktu setiap hari (10-15 menit) untuk refleksi dan merenungkan tentang semua hal yang sudah terjadi dalam sehari. Misalnya : apa yang membuatku meleset hari ini? Situasi apa yang memicu? Apa langkah kecil yang bisa kuperbaiki besok? Evaluasi hal yang dapat dikembangkan sehingga resolusi itu tetap bisa dijalankan dengan perhitungan yang baik.

  1. Belajar untuk merayakan “small win”. 

William McRaven seorang angkatan laut pernah berkata “if you want to change the world, start off by making your bed”. Sebuah perubahan besar dimulai dari sesuatu disiplin kecil setiap pagi. Ketika kita merayakan setiap keberhasilan kecil setiap pagi, itu memberikan sebuah perasaan positif yang dapat membantu Prefrontal Cortex kita untuk berpikir lebih jernih dan menegakan sistem kontrol yang baik. Misalnya, kamu hari ini berhasil bangun pagi dan jalan kaki 8000 langkah, pujilah dirimu. Jadi, rayakan setiap small win dalam hidupmu, tentu dalam tahap yang wajar. 

  1. Bangun support system 

Terkadang sistem kontrol kita lemah bukan karena tidak punya niat, tetapi karena kita sendirian. Pepatah afrika pernah berkata : “if you want to go fast, go alone. If you want to go far, go together.” Kita perlu orang yang bisa mengingatkan, menemani dan mendoakan. Support system ini bisa keluarga, pasangan, sahabat, komunitas ataupun orang lain yang dekat dengan kita. Misalnya kamu mempunyai resolusi untuk lari seminggu tiga kali. Bergabunglah dengan komunitas lari, sehingga itu menolong kamu memiliki sistem kontrol yang baik sehingga resolusi ini bisa terealisasi dengan baik. Atau jika kamu ingin bertumbuh dalam iman, bergabunglah dalam komunitas gereja atau kelompok kecil. Belajar firman, berdoa dan melayani bersama saudara seiman.

Semoga tahun 2026 jadi tahun yang penuh berkat.
Bukan karena ritual keberuntungan seperti makan 12 anggur hijau di bawah meja, tetapi karena kita menjalaninya dengan kesadaran, terus mengevaluasi diri dan tentunya penyertaan Tuhan!

Selamat menulis ulang hidupmu di tahun yang baru. ✨

Oscarsson, M., Carlbring, P., Andersson, G., & Rozental, A. (2020). A large-scale experiment on New Year’s resolutions: Approach-oriented goals are more successful than avoidance-oriented goals. PLOS ONE, 15(12), e0234097. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0234097

Polivy, J., & Herman, C. P. (2020). Overeating in restrained and unrestrained eaters. Frontiers in Nutrition, 7, Article 30. https://doi.org/10.3389/fnut.2020.00030

Shansky, R. M., & Lipps, J. (2013). Stress-induced cognitive dysfunction: Hormone-neurotransmitter interactions in the prefrontal cortex. Frontiers in Human Neuroscience, 7, Article 123. https://doi.org/10.3389/fnhum.2013.00123

Terima kasih telah membaca!

Kembali ke Beranda

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *